Tuesday, November 8, 2016

dengung yang bergema dalam kepalaku ini, tak dapat lagi tak ku acuhkan.
mungkin ini semua memang salah,
mungkin.
memang.
rumitnya takdir bila dibalut perasaan,
semakin rumit, aku jadi tak tahan.
ingin aku berhenti saja, sudah, sudahi saja semuanya.
namun aku tak mau, bukan tak bisa, tapi tak ingin.
mungkin belum,
tapi akan.
ah andai semuanya semudah itu,
cerita-cerita dalam buku-buku
akan ku curangi lembaran halaman disana,
untuk mengintip akhir cerita.
andai hidup bisa kucurangi,
tanpa perlu ku arungi bersama derita.

-november, 2016. pasca 411.
tidak kah kau rasakan
hembusan angin semakin mematikan
semua, cita-cita kita
semua, harapan kita
semua, yang kita kira
damai
dusta belaka.

ternyata,
akhirnya dunia hanya satu,
terbagi dalam dua kubu:
hitam dan putih.
dan untuk mereka
yang masih kelabu,
tidak punya tempat di dalam sana.
aku, kala ini
bagai anjing dalam kandang;

pengecut.

Saturday, November 5, 2016

dalam kepala perempuan itu, semua berteriak:
"BENCI SAJA KEPADANYA!"
"DENGKI!"
"TAK USAH KAU PEDULIKAN HATI NURANI!"
"MAU SAMPAI KAPAN KAU DIINJAK-INJAK?"
"DULU DIA TELAH BERBUAT JAHAT KEPADAMU!"
"BENCI SAJA!"
"BENCI!"

begitu kuat suara-suara tersebut, hingga ia lupa mendengar suaranya sendiri.
sejenak dalam sepi, dia mendengarkan nuraninya.
sejenak yang lain, dalam jangka yang lebih lama, dia mendengar mereka.
sulit ternyata bertahan sendiri,
ketika hati tak lagi suci,
dan suara-suara lain mulai merasuki.

November, 2016.
lalu dia berjalan memasuki ruangan tersebut. langkahnya terdengar sayu, namun terus bergema tanpa henti.
kemudian ia tersadar.
bahwa ia tidak sendiri.

Friday, November 4, 2016

semua suara dalam kepalanya,
seolah memaksanya untuk berpindah.
agar langkahnya tak sia-sia.
ingin, dia kesana
menuju arah yang pasti,
terbang bersama angin,
membawa cerita-cerita yang bermodalkan tawa,
menghapus semua duka, gundah, gulana
namun ia tak tahu,
kemana arah yang pasti.
harus berbuat apa, harus bagaimana.
membuat rencana pun ia tak sanggup.
karena hatinya masih terbagi,
oleh pikiran-pikiran yang tak pasti.
semua aspek kehidupannya tak pasti.
hidupnya,
matinya,
tak pasti.

perempuan itu berputar.
berjalan di tempatnya, selangkah demi selangkah,
namun tubuhnya tak berpindah
raganya tetap disana
karena mereka tak tahu harus kemana,
harus berbuat apa,
harus bagaimana.
dia hanya melangkah
bersama kedua kakinya
tanpa berpindah kemana-mana.