Wednesday, July 5, 2017
Melepaskan memang tidak mudah. Malah kenyataannya, tidak pernah mudah. Apalagi melepaskan sesuatu yang telah dipenuhi kenangan. Kata orang, yang kita rindukan dari seseorang itu bukan orangnya, tapi kenangan bersamanya. Melepaskan orang yang berarti bagi kita pasti sulit, karena dia sudah mengisi beberapa bait kenangan dalam diri kita. Tapi apakah itu artinya, melepaskan seseorang berarti melepaskan semua kenangan bersamanya juga?
Tuesday, May 23, 2017
you just like shadow;
even my shadow left me alone in the dark.
and thorns on roses;
sadly torturing yet save me.
my painted palette;
beautiful and dirty.
you're like a single wind on summer day
when the temperature so high i couldn't stand,
you're like an umbrella on rainy day
you keep me save yet makes me wonder:
what would happen if i let you go;
do i feel safer with the water,
do i feel happier dancing with the rain;
or lose myself and feel empty.
even my shadow left me alone in the dark.
and thorns on roses;
sadly torturing yet save me.
my painted palette;
beautiful and dirty.
you're like a single wind on summer day
when the temperature so high i couldn't stand,
you're like an umbrella on rainy day
you keep me save yet makes me wonder:
what would happen if i let you go;
do i feel safer with the water,
do i feel happier dancing with the rain;
or lose myself and feel empty.
Thursday, April 13, 2017
Tuesday, April 11, 2017
Sunday, March 19, 2017
cerita seorang pembual.
Hari itu hari Sabtu, matahari bersinar cerah menutupi awan kelabu. Tamarin berjaga di tokonya seperti biasa, menghitung satu demi satu buah apel yang dia jual.
"Lima puluh empat...lima puluh lima.." Suaranya menggema diantara hiruk pikuk suara pasar. Lalu tiba-tiba seorang ibu menghampirinya.
"Hai adik kecil! Berapa harga sepotong buah apelmu?" sahut Ibu itu dengan keras.
"Sepotong? Anda harus membeli sebuah Bu, bukan sepotong! Aku menjual buah apel, bukan apel potong!" tukas Tamarin dengan kesal.
"Tidak bolehkah aku beli sepotong saja?"
"Tidak!"
"Baiklah. Kalau begitu, berapa harga sebuah apelmu?"
"Harga satu buahnya tiga ribu saja. Tapi kalau ibu beli sepuluh, akan kuberi tambahan satu buah, gratis!"
"Baiklah, kalau begitu aku beli sepuluh."
Dengan bersemangat Tamarin mengepak sepuluh buah apel.
"Ini, kuberi satu lagi, gratis!" sahutnya sambil memasukkan sebuah apel lagi.
"Tunggu, tunggu. Bisakah kau potongkan semua apel tersebut?"
"Oh tentu saja bisa! Anda mau berapa potong?"
"Potong hingga menjadi banyak!"
Dipotong-potonglah buah apel tersebut hingga menjadi beberapa potongan. Kemudian, Tamarin mengepaknya kembali dan menyodorkannya ke Ibu tersebut.
"Totalnya jadi tiga puluh ribu!"
"Tunggu...padahal tadi kau bilang kau tidak menjual apel potong, kenapa sekarang kau memberikan apel potong padaku?"
Tamarin bingung mendengar perkataan Ibu tersebut.
"Tapi ini kan Ibu yang minta!" tukasnya.
"Jadi sekarang kau menjual apel potong?" tanya Ibu tersebut.
"Ya, tentu saja!" jawab Tamarin dengan yakin.
"Ada berapa potong disitu?"
Tamarin menghitung satu persatu apel potongannya.
"Ada tiga puluh potong apel."
"Tiga puluh potong tiga puluh ribu?"
"Ya!"
"Kalau begitu aku beli tiga potong saja." kata si Ibu sambil mengeluarkan uang tiga ribu.
Tamarin memandangnya dengan bingung. Si ibu mengambil tiga potong apel tersebut.
"Kau bilang tadi tiga puluh potong tiga puluh ribu. Berarti satu potongnya seribu. Pas kan?"
kata si Ibu, kemudian dia meninggalkan Tamarin yang kebingungan.
Hari itu hari Sabtu, matahari bersinar cerah menutupi awan kelabu. Tamarin berjaga di tokonya seperti biasa, menghitung satu demi satu buah apel yang dia jual.
"Lima puluh empat...lima puluh lima.." Suaranya menggema diantara hiruk pikuk suara pasar. Lalu tiba-tiba seorang ibu menghampirinya.
"Hai adik kecil! Berapa harga sepotong buah apelmu?" sahut Ibu itu dengan keras.
"Sepotong? Anda harus membeli sebuah Bu, bukan sepotong! Aku menjual buah apel, bukan apel potong!" tukas Tamarin dengan kesal.
"Tidak bolehkah aku beli sepotong saja?"
"Tidak!"
"Baiklah. Kalau begitu, berapa harga sebuah apelmu?"
"Harga satu buahnya tiga ribu saja. Tapi kalau ibu beli sepuluh, akan kuberi tambahan satu buah, gratis!"
"Baiklah, kalau begitu aku beli sepuluh."
Dengan bersemangat Tamarin mengepak sepuluh buah apel.
"Ini, kuberi satu lagi, gratis!" sahutnya sambil memasukkan sebuah apel lagi.
"Tunggu, tunggu. Bisakah kau potongkan semua apel tersebut?"
"Oh tentu saja bisa! Anda mau berapa potong?"
"Potong hingga menjadi banyak!"
Dipotong-potonglah buah apel tersebut hingga menjadi beberapa potongan. Kemudian, Tamarin mengepaknya kembali dan menyodorkannya ke Ibu tersebut.
"Totalnya jadi tiga puluh ribu!"
"Tunggu...padahal tadi kau bilang kau tidak menjual apel potong, kenapa sekarang kau memberikan apel potong padaku?"
Tamarin bingung mendengar perkataan Ibu tersebut.
"Tapi ini kan Ibu yang minta!" tukasnya.
"Jadi sekarang kau menjual apel potong?" tanya Ibu tersebut.
"Ya, tentu saja!" jawab Tamarin dengan yakin.
"Ada berapa potong disitu?"
Tamarin menghitung satu persatu apel potongannya.
"Ada tiga puluh potong apel."
"Tiga puluh potong tiga puluh ribu?"
"Ya!"
"Kalau begitu aku beli tiga potong saja." kata si Ibu sambil mengeluarkan uang tiga ribu.
Tamarin memandangnya dengan bingung. Si ibu mengambil tiga potong apel tersebut.
"Kau bilang tadi tiga puluh potong tiga puluh ribu. Berarti satu potongnya seribu. Pas kan?"
kata si Ibu, kemudian dia meninggalkan Tamarin yang kebingungan.
Saturday, March 18, 2017
Confession
Tonight, I put my bravery.
I hate that feeling
I hold this entire time.
Jealousy is a desease,
I'm trying to get over it.
I hope everything
will be fine.
Subscribe to:
Posts (Atom)