Thursday, March 10, 2016

roses are red, violets are blue
faded blue jeans lying next to you
filling you up like no others do
if you weren't here, what should my mind do?

Wednesday, March 9, 2016

sedih, memang
tapi ia telah memilikimu sejak lama
jauh sebelum kita berjumpa

Sunday, March 6, 2016

"oh, ya ampun," teriak debu-debu di sudut ruangan.
bulu sang kemoceng kembali mendekat ke arah nasi kering.
"telah kujelajahi seluruh ruangan di tempat ini, hanya untuk mencarimu." bulu sang kemoceng memulai monolognya.
"oh, kekasihku, yang hanya dapat kujumpai di akhir hayatku," jawab si nasi kering, tubuhnya semakin merapuh, melawan angin yang berusaha membawanya pergi.
"mungkin ini memang takdir kita," bisik bulu sang kemoceng.
"dipertemukan sebelum ajal menjemput," nasi kering tak kuasa membendung air matanya. suara tangis tumpah ruah dari sudut ruangan.
"sayangku, cinta, jangan pernah kau kira aku akan melepaskanmu sekarang," bulu sang kemoceng berusaha mendekat, namun angin tak mau membawanya kesana.
dalam ruangan yang lembab itu, mereka dipisahkan oleh satu garis lantai.
nasi kering semakin rapuh, berbaring disana.
"aku tidak sanggup," bisiknya merana. "sayangku..."
"tidak! tunggu aku, kekasihku, jangan pergi..."
bulu sang kemoceng memaki pada angin, memaksanya untuk membawanya kesana. tangisan debu-debu di sudut ruangan semakin terdengar jelas.
"kekasihku...!" tepat saat ia sampai di tempat nasi kering, nasi kering telah menjadi remah-remah kerinduan, kenangan tanpa harapan.
dan bersamanya, bulu sang kemoceng diterbangkan dalam duka.

sungguh tragis, apa yang tak dapat dilihat manusia, masih juga dapat dirasa.
terang saja kau gelisah,
tali sepatumu tak kau ikat rupanya.
kau bahkan takut jatuh sebelum kau terjatuh.
kau bahkan takut tersandung sebelum jalanmu membendung.

Tuhan, Tuhan, Gusti.
tolong aku.
lalu,
dibuang lagi kelopaknya satu per satu.
satu demi satu
hingga habis tinggal tangkainya.
lalu,
dipatahkan pula tangkai tersebut.
sedikit sedikit.
hingga habis tinggal durinya.

disimpannya duri tersebut.
untuk melindungi mawarnya yang lain.
yang lebih dia cinta.
bisa jadi,
dalam diam ini aku terdengar paling berisik.

bisa jadi,
dalam senja  ini fajar menjadi paling berharga.

bisa jadi,
dalam matiku, aku paling merasa hidup.
namun, jangan salah.
waktu pun bisa aku kecoh.
menjadi ruas-ruas dusta.
bersama lidah yang tak pernah mengering ini.
aku persembahkan,
irama tanpa nada,
sebuah tawa tanpa bahagia,
yang selalu kubalut luka.